Assalamu'alaikum sahabat solica
Bulan desember 2017 lalu saya mendapat ilmu baru dari teman, menarik sekali. Dia mendapat pasien usia 6 tahun, 30 kg. Diagnosa medis Tonsilitis dan dilakukan Tosilektomi. Karena tidak ada penyakit penyerta dan hasil pemeriksaan dalam batas normal jadi ditetapkan ASA 1 dan akan dilakukan general anestesi (GA) intubasi nasal ET.
Setelah premedikasi masuk dan oksigenasi cukup, kemudian dilakukan intubasi nasal ET. Tepat setelah ET difiksasi pasien mengalami bronkospasme sampai SaO2 nya 80% dan bleeding di nasal. Penatalaksanaan yang dilakukan yaitu dengan memberikan injeksi dexametason 5 mg, ekstubasi, dan dilakukan intubasi ET lagi tapi melalui oral.
Karena tonsilitis pada pasien ini dekstra dan sinistra maka setelah tonsilektomi dekstra selesai,, ET yang tadinya berada di oral sebelah sinistra digeser ke arah dekstra agar dapat dilakukan tonsilektomi sinistra. Nah, saat ET nya digeser, ternyata bronkospasme lagi. SaO2 40%. Penatalaksanaannya N2O dan volatil agen sevoflurane untuk sementara dimatikan dan diberi oksigenasi murni 8 lt/menit. sampai akhirnya saturasi dapat naik kembali dan operasi dapat dilanjutkan hingga selesai.. pasien pun selamat, meski harus membuat anesthetist takikardi.
Pelajaran yang dapat diambil dari pengalaman ini: pengkajian pre anestesi dalam hal ini pre visit itu harus lengkap. karena setelah dilacak pasien ini mempunyai riwayat bronkitis akut dan di pengkajian awal tidak muncul / tidak terkaji. Pelajaran kedua, jangan panik. Apapun keadaan pasien, seorang anesthetist tidak boleh panik agar bisa mikir...
Menarik bukan? tetap semangat belajar yaa.. salah seorang dokter spesialis anestesi mengatakan jangan pernah puas dengan apa yang kita dapatkan sekarang untuk tetap eksis di masa depan. terus belajar, berkarya lebih baik...
Wassalamu'alaikum
Addienius
SOLICA
Assalamu'alaikum Sahabat SOLICA :) Salam kenal yaa.. Selamat datang di blog yang sederhana ini hehe
Selasa, 02 Januari 2018
Rabu, 18 Mei 2016
Bahagia Yaa :p
Semua akan berakhir bahagia. Aamiin.
Sekarang mungkin masih dalam perjalanan menuju bahagia itu. Kebahagiaan pasti
diawali dengan perjuangan. Dan perjuangan itu identik dengan kesusahan hahaha
ndakpapa cak sabar aja 2 tahun lagi lulus. 4 semester lagi lulus. 8 bulan lagi
lulus. 36 minggu lagi lulus. 240 hari lagi lulus. Ayo hitung mundur hehe (haduh
caaaak :( ) hehehe
maafkeun cacak ya.
Ini baru males banget e, butuh hiburan. Dan
baru mencari hiburan yang cocok. Mungkin sahabat solica yang punya ide cara
menghibur diri bisa komentar di tempat komen hehe.
Entah apa yang terjadi rasanya semangatnya
tiba-tiba hilang. Padahal aku gak mainan petak umpet sama dia huuuhhh. Ah jadi
pengen nulis cara mencari semangat. Apa nulis cara menghibur diri hahaha
kapan-kapan deh kalau aku udah menemukan caranya. Ini baru otewe nyari. Iya nyari?
Apa? Harusnya cewek yang dicari? Buka itu maksudnyaaa.. jadi baper to (hooo)
Kumpul sama orang-orang yang berkepala dua
tu emang bahasannya hampir selalu dikaitkan dengan cari mencari itu (re: pasangan
hidup, temen hidup, pacar, kekasih, atau apalah sebutannya). tapi apa daya,
Allah mungkin belum mengijinkanku. Hahahaha tapi aku juga belum mau. Aku takut
e. takut kalau terjebak perbuatan yang tidak-tidak. Aku takut kalau Allah
marah. Emmm ganti bahasan aja deh, kok jadi ngomongin ini sih. (maafin cacak
ya)
Sahabat solica yang disayang Allah, aku
pengen nanya. Apa yang bikin sahabat solica bahagia? Kalau itu bernyawa (entah
orang, hewan, atau tumbuhan) jagalah dia, jangan sia-siakan, mungkin kadang
buat kita capek dan kesal, tapi sadarlah ada banyak orang diluar sana yang
ternyata menginginkannya. Bahagia ya… :)
Selasa, 17 Mei 2016
Hai
Dear Diary...
Hari ini untuk pertama kalinya aku menulis diary di blog hahaha lucu rasanya. Sebenernya ini pertama kalinya juga aku nulis di blog. Tau enggak apa yang bikin aku tertarik sama blog? Mau tau? Gak mau ya? Halah mau laahh... tapi aku gak mau kasih tau :p wkwkw
Eh aku berubah pikiran hehe meskipun kamu gak mau dikasih tau tapi aku tetep mau nulis haha emm jujur aku tertarik sama blog gara-gara temenku ada tugas ngeblog terus aku kepingin. udah gitu aja (yaelah -_-") hehehe aku udah buat blog ini lamaaa banget, tapi dari dulu belum ngepost apa2 wkwk dan hari ini aku sempetin (melepas rasa penat) ngeblog. Waow rasanya luar biasa seru hihihi soalnya pas di kampus ternyata aku nemu temen yang sama sama suka sama blog. mau tau dia? kenalkan dia temenku namanya Ety. Suka dipanggil Jetil. Barang barangnya ada tulisannya "XT". Dia suka bola, suka kopi, sama sepertiku wkwkw nih ikutin blognya ya catatanjetil9.blogspot.co.id
Udah dulu deh nulis diary nya, aku masih banyak tugas. tapi sebenernya bingung juga meh dibuat gimana :( aku gakbisa buat stopmotion video :( ini disusuh buat video korupsi waaaa gimana ya? enatahlah, semoga Allah berbaik hati menunjukkan solusinya. mungkin dari sahabat SOLICA yang baru baca ini hehe eh iya sebelum udah aku mau ngucapin "Selamat jelajahin blogkuuu, semoga bermanfaat"
Senin, 16 Mei 2016
WAHID
Hari
pertama tahun China kali ini sungguh berkesan buatku. Kamu tau kenapa? Gak tau ? masak sih gak tau ? Ah, pasti tahu aaahhh…Gak tau juga? Eh, tenang-tenaang, jangan
nangiiiss! iya iya tak kasih tau deh. Hari
itu berkesan karena bertepatan dengan pertama-kalinya aku mengikuti mentoring
(yeyeyeyeeeeyy!! #alaynih). Selama ini aku menganggap mentoring dan kajian itu
sama. Namun, ternyata berbeda. Walaupun keduanya sama-sama mempertebal keimanan
kita, tetapi banyak perbedaan diantara keduanya. Kalau kajian itu pesertanya
tidak tetap, sedangkan mentoring mempunyai anggota yang tetap, tidak bisa orang
sembarangan keluar masuk kelompok mentoring itu (emang WC keluar masuk). Kajian tidak ada struktur organisasi,
sedangkan mentoring ada ketua, sekretaris, bendahara, bahkan humas pun ada. Kajian
itu tidak ada namanya, tidak ada MC dan kultumnya, dimentoring ada nama group mentoring itu, MC, dan kultum terjadwal
dengan apik. Satu yang membuat mentoring ini berkesan buatku adalah
keterbukaan. Ya, kita bisa berbagi, curhat, berkeluh-kesah, tanya dan cerita
apa saja di mentoring. Semua itu yang tidak aku temukan di pengajian dan kajian
selama ini.
Ketika
mentoring pertamaku, tepatnya Hari Sabtu, tanggal 1 Februari 2014 (yaktul, baru kemarin) belum diisi dengan
materi, haha mungkin sama dengan
mentoring pertama yang lain. Berhubung pertama jadi diberi pengertian dulu mentoring itu apa. Kemudian dibentuk struktur
organisasi, dan aku terpilih sebagai
humas (terus? Haha). Ternyata eh ternyata, mentoring pertamaku ini langsung disambut
dengan lomba mentoring. Dimana dalam lomba
itu group mentoring satu dengan group yang lain diperlombakan. Mulai
dari lomba menulis cerita, fotografi, lomba kreasi hijab dan masih banyak lagi.
Mentorku menawarkan ingin ikut atau tidak, dan kami memutuskan untuk ikut.
Meski baru pertama kalinya berkumpul bersama dalam satu forum yang baru saja
diketahui, kami harus diuji (cciiaaadooh) dan diadu (lhoh) dengan group mentoring yang lain. Kami tetap
tidak takut alias berani. Semangat empat lima, berusaha semampu, sebisa, dan
tentu diiringi dengan doa (bismillah) menjadi tekad kami. Barang siapa yang bersungguh-sungguh, ya, SUNGGUH akan berhasil. MAN JADDA WA JADDA.
Nhah, jadilah itu nama grup mentoringku, MJWJ.
Salah
satu lomba yang mentoring MJWJ ikuti adalah Lomba Foto Kelompok Mentoring.
Dimana foto itu harus berisi seluruh anggota mentoring dan mentor. Ya, seluruh
anggota, dengan begitu kami harus menyamakan jadwal kapan kami semua mempunyai
waktu luang yang sama. Awalnya kami putuskan Hari Senin. Masing-masing dari
kami sudah menyiapkan segala properti dan kostum yang akan dikenakan. Namun,
takdir berkata lain. Ada dua teman kami yang tidak berangkat sekolah karena
sakit. Lalu, kami sepakat untuk mengganti Hari Selasa saja, pulang sekolah. Keesokan
harinya semua warga sekolah dikagetkan dengan berita bahwa ayahanda teman kami
ada yang meninggal dunia. Innalillahi wa
inna ilaihi roji’un. Semoga ayah teman kami ini diampuni dosanya dan
diterima semua amal baiknya. Semoga teman kami sekeluarga juga diberi kesabaran,
ketabahan, dan keikhlasan menerimanya, serta diberi kebahagiaan dunia akhirat
(Aamiin, trimakasih sudah baca dan bantu mendoakan, hehe). Akhirnya, rencana
foto itu ditunda lagi karena kalau diundur
setelah takziah mentor kami yang tidak bisa.
Hari
Rabu, mau tidak mau kami harus mengambil foto, sebab foto itu paling lambat
dikumpulkan Hari Kamis. Bbbrrreeessss… hujan lebaaat sekali. Walau begitu kami
tetap semangat dan menyiapkan semua properti dan kostum. Tiba-tiba aku mendapat
sms dari salah seorang teman kami yang isinya dia mengundurkan diri dari group mentoring ini. Aku sangat kaget
begitu juga teman-temanku yang lain. Namun, mau gimana lagi? Mungkin sudah
menjadi jalan dari-Nya. Kami tetap berlapang dada menerimanya. Setelah semuanya
siap, aku dan teman-teman dengan penuh percaya diri berekspresi di depan kamera,
Bergaya, tersenyum, dan sok cantik (emang udah cantik sih, kan akhwat semua, haha) agar mendapat hasil yang terbaik.
Jpreet…jpreet…jpreeet… Kami mengulang-ulang fotonya untuk mendapat foto yang
menurut kami sudah pas. Sampai pada foto ke-sekian(berapa ya? Lupa) kami
sepakat itulah foto yang paling bagus dan siap dilombakan (dianggep bagus aja
sih, kasihan yang moto udah mau
pulang,hehe).
Itulah
cerita mentoring pertamaku dan pengalaman pertama bersama MJWJ, group mentoringku. Semuanya membuatku
tidak sabar ingin segera melewati cerita mentoringku yang kedua, keempat,
kelima, dan keee…(wallahu a’lam), yang jelas aku berjanji pada diriku sendiri untuk tetap
mengikuti mentoring ini sampai waktu yangaku sendiri tidak tahu karena hanya
Allah Yang Maha Tahu. Insya AllahJ
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG
Pada kehidupan sehari-hari
kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena
kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu
sendiri sangat berpengaruh berbagai macam hal diantaranya kebudayaan, sosial,
keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta perkembangan
zaman ( dalam Tarwoto & Wartonah 2006).
Praktik hygiene sama dengan
peningkatan kesehatan. Dengan implementasi tindakan hygiene pasien, atau
membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu dalam lingkungan rumah
sakit, perawat menambah tingkat kesembuhan pasien. Dengan mengajarkan cara
hygiene pada pasien, pasien akan berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan
dan partisipan dalam perawatan diri ketika memungkinkan (dalam Perry &
Potter, 2005).
Jika seseorang sakit, biasanya
masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap
masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan
terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum (dalam Tarwoto & Wartonah
2006).
B.
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pemenuhan
defisit perawatan diri pada pasien?
C.
TUJUAN
1. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan
mahasiswa mengerti dan mengetahui tentang asuhan keperawatan pada pasien
terhadap pemenuhan defisit perawatan diri.
2. Tujuan Khusus
a.
Mahasiswa memahami konsep dasar personal hygiene
b.
Mahasiswa
memahami asuhan keperawatan personal hygiene secara teoritis
c.
Mahasiswa
memahami proses asuhan keperawatan kebutuhan personal hyhiene pada pasien.
D.
METODE
Metode yang digunakan antara lain:
1. Observasi
2. Waweancara
dengan pasien
3. Studi
dokumen dengan Rekam Medis pasien
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.
KONSEP DASAR
PERSONAL HYGIENE
1. Definisi Personal Hygiene
Personal Hygiene berasal dari bahasa
Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Jadi
personal hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan
kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Perawatan diri adalah
salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan guna mempertahankan
kehidupannya, kesehatan, kesejahteraan, sesuai dengan kondisi kesehatan, klien
dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan
diri. Ukuran
kebersihan atau penampilan seseorang dalam pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene
berbeda pada setiap orang sakit karena terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan.
Perawat dapat memberikan informasi-informasi tentang personal hygiene yang
lebih baik terkait dengan waktu atau frekuensi aktifitas, dan cara yang benar dalam
melakukan perawatan diri.
2.
Epidemologi
Pemenuhan
kebutuhan personal hygine biasanya menyangkut tentang kebutuhan untuk
kebersihan diri secara mandiri. Gangguan pada personal hygine dapat terjadi
pada semua tingkat umur. Pasien yang tidak bisa bangun sendiri atau hanya tidur
dirumah sakit biasanya yang mengalami gangguan personal hygine.
3.
Etiologi
a. Gangguan kognitif
b. Penurunan motivasi
c. Kendala lingkungan (ketidaksediaan
sarana dan prasarana)
d. Ketidaknyamanan merasakan hubungan
spasial
e. Ansietas
f. Kelemahan
4. Faktor Predisposisis
Menurut
Potter dan Perry (2005), sikap seseorang melakukan personal hygiene dipengaruhi
oleh sejumlah faktor antara lain:
a. Citra Tubuh
Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentingnya hygiene
pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang
penampilan fisiknya. Citra tubuh ini dapat sering berubah. Citra tubuh
mempengaruhi cara mempertahankan hygiene.
b. Praktik sosial.
Kelompok-kelompok sosial wadah seorang klien berhubungan
dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak,
kanak-kanak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka.
c. Status sosio-ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat
praktik kebersihan yang digunakan. Perawat harus menentukan apakah klien dapat
menyediakan bahan-bahan yang penting seperti deodorant, sampo, pasta gigi dan
kosmetik. Perawat juga harus menentukan jika penggunaan produk-produk ini merupakan
bagian dari kebiasaan sosial yang dipraktikkan oleh kelompok sosial klien.
d. Pengetahuan
Pengtahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi
kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu
sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus termotivasi untuk memelihara
perawatan-diri. Seringkali, pembelajaran tentang penyakit atau kondisi
mendorong klien untuk meningkatkan hygiene. Pembelajaran praktik tertentu yang
diharapkan dan menguntungkan dalam mengurangi resiko kesehatan dapat memotifasi
seseorang untuk memenuhi perawatan yang perlu.
e. Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi
perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik
keperawatan diri yang berbeda pula. Di asia kebersihan dipandang penting bagi
kesehatan.
f. Pilihan pribadi
Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan tentang
kapan untuk mandi, bercukur, dan melakukan perawatan rambut . klien memilih
produk yang berbeda (mis. Sabun, sampo, deodorant, dan pasta gigi) menurut
pilihan pribadi.
g. Kondisi Fisik.
Orang yang menderita penyakit tertentu (mis. Kanker tahap
lanjut) atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik atau
ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi.
5.
Tanda dan Gejala
Adapun gejala klinis dari personal hygiene adalah
sebagai berikut :
a. Kulit kepala
kotor, rambut kusam, dan acak-acakan
b. Hidung dan
telinga kotor
c. Gigi kotor
disertai mulut bau
d. Rambut
panjang dan tidak terawat
e. Kuku panjang
dan tidak terawat
f. Badan dan
pakaian kotor
g. Penampilan
tidak rapi
6.
Pemeriksaan Fisik
a.
Rambut
· Amati
kondisi rambut.
· Keadaan
rambut yang mudah rontok.
· Keadaan
rambut yang kusam.
· Tekstur
rambut.
b.
Kepala
· Amati dengan
benar kebersihan kulit kepala
· Normosepal
· Ketombe
· Berkutu
· Kebersihan
· Apakah ada
nyeri tekan
c.
Mata
§ Apakah mata
kanan dan kiri simetris
§ Konjungtiva
ananemis
§ Seklera
aninterik
§ Seklera pada
kelopak mata.
d. Hidung
· Apakah pilek
· Apakah ada
perubahan penciuman
· Kebersihan
hidung
· Keadaan
membrana mukosa apakah ada septum deviasi
e.
Mulut
§ Keadaan mukosa
mulut
§ Kelembapan
§ Adanya lesi
§ Kebersihan
f.
Gigi
§ Amati kondisi mukosa mulut dan
kelembaban mulut
§ Apakah ada karang gigi
§ Apakah ada carries
§ Kebersihan.
g.
Telinga
§ Amati telinga kanan kiri apa
simetris
§ Apakah ada lesi
§ Perhatikan adanya serumen atau
kotoran pada telinga.
h.
Kulit
· Amati kondisi kulit (tekstur, turgon,
kelembaban)
· Apakah ada lesi
· Apakah ada luka
i.
Kuku,
Tangan, dan Kaki
· Amati kebersihan kuku
· Perhatikan adanya luka
j.
Tubuh
secara umum
· Amati kondisi dan kebersihan badan
secara umum.
· Perhatikan adanya klainan pada kulit
pasien
7.
Terapi
a. Meningkatkan kesadaran dan percaya
diri klien.
b. Ciptakan lingkungan yang mendukung.
c. Sikap keluarga.
d. Membantu klien untuk melakukan
perawatan diri.
8.
Penatalaksanaan
Tindakan
keperawatan dengan melakukan perawatan pada kulit yang mengalami atau beresiko
terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut khususnya pada daerah yang mengalami
tekanan (tonjolan). Dengan tujuan mencegah dan mengatasi terjadinya luka
dekubitus akibat tekanan lama dan tidak hilang. Tindakan keperawatan pada pasien
dengan cara mencuci dan menyisir rambut. Tujuannya adalah membersihkan kuman
yang ada pada kulit kepala, menambah rasa nyaman, membasmi kutu atau ketombe
yang melekat pada kulit dan memperlancar sistem peredaran darah di bawah kulit.
Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara membersihkan dan menyikat gigi dan
mulut secara teratur. Tujuan perawatan ini mencegah infeksi pada mulut akibat
kerusakan pada daerah gigi dan mulut, membantu menambah nafsu makan dan menjaga
kebersihan gigi dan mulut. Tindakan keperawatan pada pasien yang tidak mampu
merawat kuku secara sendiri. Tujuannya adalah menjaga kebersihan kuku dan
mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat garukan dari kuku.
B.
ASUHAN
KEPERAWATAN TEORITIS
Pengkajian
1. Identitas meliputi nama, umur, jenis
kelamin, alamat pendidikan, agama, pekerjaan, tanggal MRS, No registrasi, dll.
2. Keluhan utama
3. Riwayat kesehatan sekarang
4. Riwayat penyakit terdahulu
5. Riwayat kesahatan keluarga
6. Pola persepsi dan manajemen
kesehatan
7. Pola nutrisi-metabolik
8. Pola eleminasi
9. Pola aktivitas dan latihan
10. Pola kognitif dan persepsi
11. Pola persepsi - konsep diri
12. Pola tidur dan istirahat
13. Pola peran – hubungan
14. Pola seksual – reproduksi
15. Pola toleransi stress – koping
16. Pola nilai – kepercayaan
17. Riwayat keperawatan
a. Faktor yang mempengaruhi personal
hygine
b. Pola kebersihan tubuh
c. Kebiasaan personal hygine (mandi,
oral care, perawatan kuku dan kaki, perawatan rambut, mata, hidung dan telinga.
18. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan Umum
b. Tanda-tanda Vital
c. Catat perubahan-perubahan pada area
membran mukosa, kulit, mulut, hidung, telinga, kuku, kaki, dan rambut akibat
terapi.
d. Lakukan inspeksi dan palpasi, catat
adanya lesi dan kondisi lesi.
e. Observasi kondisi membran mukosa,
kulit, mulut, hidung, telinga,
kuku,kaki, dan rambut : warna, tekstur, turgon.
19. Data
DS (data subyektif) :
a. Malas beraktivitas
b. Intraksi kurang
c. Kegiatan kurang
d. Pasien merasa lemah.
DO (data
obyektif) :
a. Badan dan pakaian kotor
b. Rambut kotor
c. Mulut dan gigi bau
d. Kulit kusam dan kotor
e. Kuku kotor
Diagnosa
Keperawatan yang
mungkin akan muncul
Menurut NANDA 2013, diagnosa keperawatan umum untuk klien
dengan masalah personal hygiene adalah defisit perawatan diri. Diagnosa
tersebut dibagi menjadi 4 yaitu:
a.
Defisit perawatan diri : makan
Kemungkinan
berhubungan dengan:
1)
Gangguan kognitif
2)
Penurunan motivasi
3)
Kendala lingkungan
4)
Ketidaknyamanan
Ditandai
dengan:
1)
Ketidakmampuan mengambil makanan dan
memasukan kemulut
2)
Ketidakmampuan mengunyah makanan
3)
Ketidakmampuan menghabiskan makanan
4)
Ketidakmampuan menelan makanan
b.
Defisit perawatan diri : mandi
Kemungkinan
berhubungan dengan:
1)
Gangguan kognitif
2)
Penurunan motivasi
3)
Kendala lingkungan
4)
Nyeri
Ditandai
dengan:
1)
Ketidakmampuan untuk mengakses ke
kamar mandi
2)
Ketidakmampuan mengambil
perlengkapan mandi
3)
Ketidakmampuan mengeringkan tubuh
4)
Ketidakmampuan menjangkau sumber air
c.
Defisit perawatan diri :
berpakaian/berhias
Kemungkinan
berhubungan dengan:
1)
Gangguan kognitif
2)
Penurunan motivasi
3)
Kendala lingkungan
4)
Keletihan dan kelemahan
Ditandai
dengan:
1)
Ketidakmampuan mengancingkan pakaian
2)
Ketidakmampuan mengenakan sepatu
3)
Ketidakmampuan mengenakan atribut
pakaian
4)
Hambatan memilih pakaian
d.
Defisit perawatan diri : eleminasi
Kemungkinan
berhubungan dengan:
1)
Gangguan kognitif
2)
Penurunan motivasi
3)
Kendala lingkungan
4)
Keletihan dan kelemahan
Ditandai
dengan:
1)
Ketidakmampuan melakukan hygiene
eleminasi yang tepat
2)
Ketidakmampuan naik ke toilet atau
commode
3)
Ketidakmampuan untuk duduk di toilet
atau commode
Rencana
Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan untuk klien dengan gangguan
personal hygiene harus meliputi beberapa pertimbangan yaitu hal – hal yang
disukai klien, kesehatan klien serta keterbatasan yang dimilikinya. Selain itu
perawat perlu mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memberikan asuhan
keperawatan serta fasilitas dan tenaga yang tersedia.
Berikut
ini adalah salah satu contoh rencana keperawatan.
Diagnosa
yang dapat diangkat:
1.
Defisit perawatan diri: berpakaian
b/d penurunan motivasi ditandai dengan
penampilan tidak rapi
2.
Defisit perawatan diri: eleminasi
b/d hambatan mobilitas ditandai dengan tidak mampu ke toilet sendiri
3.
Defisit perawatan diri: mandi
berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal ditandai dengan badan kotor dan bau
4. Defisit perawatan diri: makan b/d
nyeri ditandai dengan tidak mampu menelan makanan
No dx
|
Tujuan dan Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama ...x 24 jam, px mampu mempertahankan kebersihan diri dan
kerapian, dengan KH:
1. Penampilan rapi
2. Rambut rapi dan bersih
3. Mampu memakai pakaian dan berhias
secara mandiri
|
1. Kaji hambatan partisipasi dalam perawatan diri
2. Bantu pasien memilih pakaian
3. Jelaskan tentang cara personal hygiene yang tepat
4. Libatkan keluarga
|
1. Menyiapkan untuk meningkatkan
kemandirian
2.
Px mungkin membutuhkan berbagai bantuan dalam persiapan
memilih pakaian
3. Menambah pengetahuan pasien dan keluarga mengenai
perawatan diri yang tepat
4. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu
pasien dan memberikan motivasi
|
2
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama ...x 24 jam, px mampu melakukanaktivitas eleminasi secara
tepat, dengan KH:
1. Px mampu duduk dan turun dari
toilet
2. Px mampu membersihkan diri setelah eleminasi secara
mandiri/dibantu
|
1. Kaji budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas
perawatan diri
2. Bantu pasien ke toilet
3.
Berikan pengetahuan tentang
personal hygiene
4. Libatkan keluarga
|
1. Mngetahui kebiasaan px dalam toileting
Hambatan mobilitas menyebabkan px
tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri
Mengetahui pentingnya personal
hygiene bagi pasien
4. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu
pasien
|
3
|
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama ...x 24 jam, px merasa nyaman dan bersih dengan KH:
1. Kulit pasien tidak kotor
2. Tidak ada bau badan
3. Kuku pasien tidak panjang dan kotor
4. Rambut bersih
|
1. Pantau integritas kult pasien
2. Bantu pasien mandi
3. Berikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri
4. Libatkan keluarga
|
1. Mengetahui kondisi kulit secara umum
2. Agar pasien merasa lebih nyaman dan segar
3. Menambah wawasan pasien dan
keluarga tentang pentingnya perawatan diri
4. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu
pasien
|
4
|
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama ...x 24 jam, px mampu makan secara mandiri dan tepat,
dengan KH:
1. Px mampu mengambil makanan sendiri
2. Px mampu makan sendiri dengan rapi
3. Px meampu mengungkapkan kepuasan
makan
|
1. Identifikasi diet yang diresepkan
Bantu pasien menyiapkan makanan
yang lunak
Jelaskan tentang personal hygiene
tentang pola makan
4 Kolaborasikan dengan keluarga
|
1. Makanan disesuaikan dengan kondisi klien
2. Pasien mungkin kesulitan mengambil makanan sendiri
3.
Menambah wawasan pasien dan
keluarga tentang persoal hygiene: makan
4. Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu
pasien
|
Implementasi
Keperawatan
Implementasi
adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun
pada tahap perencanaan. Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada
klien terkait dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi,
pendidikan untuk klien-keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan
yang muncul dikemudian hari.
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi asuhan keperawatan pada
pasien dengan gangguan personal hygiene berdasarkan kriteria hasil pada tujuan
keperawatan yaitu:
a. Pasien mampu berpakaian dan
berpenampilan rapi secara mandiri
b. Kebutuhan personal hygiene pasien :
eleminasi terpenuhi
c. Pasien mampu mempertahankan
mobilitas yang diperlukan untuk ke kamar mandi dan menyediakan perlengkapan
mandi
d. Pasien mampu makan secara
mandiri/dibantu
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Handhi. 2013. Asuhan
Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA. Jakarta : MediAction
Mubarak,
Wahit Iqbal & Cahyani, Nurul. 2007. Kebutuhan
Dasar. Jakarta : EGC
Potter
& Perry. 2005. Fundamental
Keperawatan. Jakarta:EGC
Tarwoto & Wartonah. 2006.
Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Ediai 3. Jakarta: Salemba
Medika
Langganan:
Postingan (Atom)