A.
MASALAH
UTAMA
Perubahan Proses Pikir : Waham
B.
PROSES
TERJADINYA MASALAH
1. Pengertian
Waham adalah
suatu keyakinan kokoh
yang salah dan
tidak sesuai dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin “aneh”
(misalnya ”saya adalah nabi yang menciptakan
biji mata manusia”) atau bisa pula “tidak
aneh” (hanya sangat tidak mungkin,
contoh “masyarakat di surga selalu menyertai saya kemanapun saya pergi”) dan
tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya (Purba dkk,
2008).
Waham
adalah kesalahan dalam menilai diri sendiri, atau keyakinan dengan isi
pikirannya padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Atau kepercayaan yang telah terpaku/terpancang
kuat dan tidak dapat dibenarkan berdasarkan fakta dan kenyataan tetapi tetap dipertahankan. Jika disuruh membuktikan
berdasar akal sehatnya, tidak bisa. Atau
disebut juga kepercayaan yang palsu dan sudah tidak dapat dikoreksi (Baihaqi, 2007).
Delusi atau
waham merupakan gagasan
(idea) atau pendapat bahwa seorang individu meyakini satu kebenaran, yang
kemungkinan besar bahkan hampir pasti, jelas, tidak mungkin. Tentu saja, banyak
orang memegang keyakinan yang kemungkinan besar bisa menjadi salah, seperti
keyakinan akan menang lotre. (Wiramihardja, 2007).
Seseorang
yang mengalami waham berfikir bahwa ia memiliki banyak kekuatan dan bakat serta
tidak merasa terganggu jiwanya atau ia merasa sangat kuat dan sangat terkenal.
Hal ini sesuai dengan penjelasan Varcarolis dalam Fundamental of Psychiatric
Mental Health Nursing (2006 : 397).
2. Jenis – Jenis Waham
Menurut Mayer Gross, macam-macam waham
adalah sebagai berikut :
·
Waham
Primer
Timbul secara tidak logis sama
sekali, tanpa penyebab apa-apa dari luar. Misal seseorang merasa istrinya
sedang selingkuh sebab ia melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua kali.
·
Waham
Sekunder
Biasanya logis kedengarannya, dapat
diikuti dan merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala
skizofrenia lainnya.
·
Waham
Agama
Keyakinan terhadap suatu agama secar
berlebihan diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“kalau saya masuk surga saya harus
menggunakan pakaian putih setiap hari,” atau mengatakan bahwa dirinya
adalahTuhan yang dapat mengendalikan makhluknya.
·
Waham
Kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa
dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain,
ducapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“saya ini penjabat di Departemen
Kesehatan lho…” , “saya punya tembang emas”
·
Waham
curiga
Keyakinan bahwa seseorang atau
kelompok orang berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan berulang –
ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“saya tahu …semua saudara saya
mungkin ingin menghancurkan hidup saya karena mereka semua iri dngan kesuksesan
yang dialami saya.
·
Waham
Somatik
Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau
bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit, diucapkan berulang – ulang
tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
Klien selalu mengatakan bahwa
dirinya sakit kanker, namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan adanya sel kanker pada tubuhnya.
·
Waham
Nihilistik
Keyakinan seseorang bahwa dirinya
sudah meninggal dunia, diucapkan berulang –ulang tetapi tidak sesuai dengan
kenyataan.
Contoh :
“ini kan alam kubur ya, semua yang
ada di sisni adalah roh-roh.”
·
Delusion
of reference
Pikiran yang salah bahwa tingkah
laku seseorang ada hubunganya dengan dirinya
·
Waham
Kejar
Klien mempunyai keyakinan ada orang
atau komplotan yang sedang mengganggunya atau mengatakan bahwa ia sedang
ditipu, dimata-matai atau kejelekannya sedang dibicarakan
3. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dngan perubahan
proses pikir : waham adalah sebagai berikut :
a. Kognitif :
·
Tidak
mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
·
Individu
sangat percaya pada keyakinannya
·
Sulit
berfikir realita
·
Tidak
mampu mengambil keputusan
b. Afektif
·
Situasi
tidak sesuai dengan kenyataan
·
Afek
tumpul
c. Prilaku dan Hubungan Sosial
·
Hipersensitif
·
Hubungan
interpersonal dengan orang lain dangkal
·
Depresif
·
Ragu-ragu
·
Mengancam
secara verbal
·
Aktifitas
tidak tepat
·
Streotif
·
Impulsive
·
Curiga
d. Fisik
·
Higiene
kurang
·
Muka
pucat
·
Sering
menguap
·
BB
menurun
·
Nafsu
makan berkurang dan sulit tidur
3. Rentang respons
Rentang respons perubahan proses
pikir waham (keliat,1999)
Respon adaptif Respon
maladaptif
Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten dg pengalaman
Perilaku sesuai
Berhubungan sosial
|
Gangguan pikiran/waham
Sulit berespon emosi
Perilaku kacau
Isolasi
sosial
|
Distorsi pikiran
Ilusi
Reaksi emosi berlebihan /kurang
Perilaku aneh/tdk biasa
Menarik diri
|
4. Etiologi
Gangguan persepsi sensori halusinasi
sering disebabkan karena panik, sterss berat yang mengancam ego yang lemah, dan
isolasi sosial menarik diri (Townsend, M.C, 1998). Menurut Carpetino, L.J
(1998) isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami
atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan
orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangkan menurut Rawlins,
R.P dan Heacock, P.E (1998), isolasi sosial menarik diri merupakan usaha
menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan
hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir, berperasaan. Berpr
bestasi, atau selalu dalam kegagalan.
Isolasi sosial menarik diri sering
ditunjukkan adanya perilaku (Carpentino, L.J 1998) :
Data subjektif :
a. Mengungkapkan perasaan kesepian atau
penolakan
b. Melaporkan dengan ketidaknyamanan
konyak dengan situasi social
c. Mengungkapkan perasaan tak berguna
Data objektif :
a. Tidak tahan terhadap kontak yang
lama
b. Tidak komunikatif
c. Kontak mata buruk
d. Tampak larut dalam pikiran dan
ingatan sendiri
e. Kurang aktivitas
f. Wajah tampak murung dan sedih
g. Kegagalan berinteraksi dengan orang
lain
6. Faktor Predisposisi
a. Pengembangan
Hambatan perkembangan alam
mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stres
dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannya
sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efrktif.
b. Sosial budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan
kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.
c. Psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran
ganda / bertentangan, dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan
pengingkaran terhadap kenyataan.
d. Biologis
Waham diyakini tejadi karena adanya
atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak, atau perubahan pada sel kontrikal
dan limbik.
e. Genetik
- Faktor Presipitasi
a. Sosial budaya
Waham dapat dipicu karena adanya
perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok.
b. Biokimia
Dopamin, norepineprin, dan zat
halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
c. Psikologis
Kecemasan yang memanjang dan
terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembngkan
koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.
8. Penyebab
Berbagai kehilangan dapat
terjadi pada pasca bencana, baik kehilangan harta benda, keluarga maupun orang
yang bermakna. Kehilangan ini menyebabkan stress bagi mereka yang mengalaminya.
Jika stress ini berkepanjangan dapat memicu masalah gangguan jiwa dan waham.
(Budi Anna Keliat, 2006: 147)
9. Akibat
Akibat dari waham klien dapat
mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak
realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata
yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya
adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
a. Status mental
Berdandan dengan baik dan berpakaian
rapi, tetapi mungkin terlihat ekstrinsik dan aneh. Tidak jarang bersikap curiga
atau bermusuhan terhadap orang lain. Klien biasanya cerdik ketika dilakukan
pemeriksaan sehingga dapat memanipulasi data. Selain itu perasaan hatiya
konsisten dengan isi waham.
b. Sensori dan kognisi
Tidak memiliki kelainan dalam
orientasi kecuali klien waham spesifik terhadap orang, tempat, dan waktu. Daya
ingat atau kognisi lainnya biasanya akurat. Pengendalian impuls pada klien
waham perlu diperhatikan bila terlihat adanya rencana untuk bunuh diri,
membunuh, atau melakukan kekerasan pada orang lain.
Gangguan proses pikir waham biasanya
diawali dengan adanya riwayat penyakit berupa kerusakan pada bagian korteks dan
limbik otak. Bisa dikarenakan terjatuh atau didapat ketika lahir. Hal ini
menunjukkan terjadinya perubah emosional seseorang yang tidak stabil. Bila
kepanjangan akan menimbulkan perasaan rendah diri, kemudian mengisolasi diri
dari orang lain dan lingkungan. Waham curiga akan timbul sebagai manifestasi
ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Bila respons lingkungan
kurang mendukung terhadap perilakunya dimungkinkan akan timbul resiko perilaku
kekerasan pada dirinya, orang lain dan lingkungan. Dan kerusakan komunikasi
kepada orang lain.
5. POHON MASALAH
Effect
Kerusakan
Komunikasi Verbal
Core
Problem
Perubahan Proses Pikir :
Waham curiga
Cause
Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
6. Penatalaksanaan
·
Bina
hubungan saling percaya dengan pasien
·
Jangan
membantah dan mendukung waham klien
·
Yakinkan
klien dalam keadaan aman dan terlindung
·
Observasi
kebutuhan klien sehari – hari
·
Memberikan
pujian setiap klien melakukan aktivitas yang positif
·
Farmakologi
seperti : haloperidol, Chlorpromazine, Trihexipenidil.
Farmakoterapi, ECT dan terapi
lainnya seperti: terapi psikomotor, terapi rekreasi, terapi somatik, terapi
seni, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spritual dan terapi okupsi
yang semuanya bertujuan untuk memperbaiki perilaku klien dengan waham pada
gangguan skizoprenia. Penatalaksanaan yang terakhir adalah rehabilitasi sebagai
suatu proses refungsionalisasi dan pengembangan bagi klien agar mampu
melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.
7. MASALAH YANG MUNCUL DAN DATA YANG
PERLU DIKAJI
No
|
Data
focus
|
Masalah
keperawatan
|
1.
|
DS
: klien mengatakan hal yang tidak jelas
DO
:
|
Kerusakan
komunikasi verbal
|
DS :
DO :
|
Gangguan
proses Pikir : Waham Curiga
|
|
Data
Subjektif :
Data
Objektif :
|
Gangguan
konsep diri : harga diri rendah
|
8. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kerusakan Komunikasi verbal b.d
waham curiga
2. perubahan isi pikir: waham curiga
9. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa
|
Tujuan Umum
|
Tujuan Khusus
|
Intervensi
|
Kerusakan Komunikasi verbal b.d waham curiga
|
Klien dapat mengontrol wahamnya sehingga komunikasi verbal
dapat berjalan dengan baik
|
Klien dapat Membina Hubungan Saling Percaya
|
|
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang
dimiliki
|
|
||
Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak
terpenuhi
|
|
||
Klien dapat b.d realitas (realitas: diri, orang lain,
tempat, waktu)
|
|
||
Klien dapat memanfaatkan obat dengan benar
|
|
STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI PADA PASIEN DENGAN WAHAM
Pertemuan
: ke 1
Hari
/ Tanggal : Senin, 11 April 2016
Waktu
: 10.00 WIB
Proses
Keperawatan
a.
Kondisi
Klien
b.
Klien
mengatakan dia tahu bahwa saudaranya ingin mengahancurkan hidupnya dan ingin
menyakiti dirinya. Klien selalu mengulang-ulang perkataanya. Klien terlihat
ketakutan dan bingung.
c.
Diagnosa
Keperawatan
d.
Gangguan
proses pikir : Waham Curiga
e.
Tujuan
·
Klien
dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
SP
1 P : Membina hubungan saling percaya ; mengidentifikasi kebutuhan yang tidak
terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan ; mempraktekkan pemenuhan kebutuhan yang
tidak terpenuhi
- Orientasi
- Salam Terapeutik
”Assalamualaikum perkenalkan nama saya D, saya praktikan
dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta yang bertugas pada pagi ini di Bangsal
Sariayu. “Saya bertugas dari jam 08.00–14.00, saya yang akan membantu perawatan
ibu hari ini. Pada hari ini kita akan belajar orientasi realita ya bu .” Nama ibu
siapa? Ibu senang dipanggil apa?”
- Evaluasi Validasi
“Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Ada keluhan yang Ibu
rasakan hari ini?” “saya lihat Ibu seperti ketakutan dan bingung Bu?”
- Kontrak
Topik: “Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang Ibu Y
rasakan sekarang?”
Waktu : “Berapa lama Ibu Y mau berbincang-bincang dengan
saya? Bagaimana kalau 20 menit Bu?”
Tempat : “Dimana enaknya kita bercakap-cakap Bu? Ibu mau
disini,di depan atau ditaman bu?” ”baik ibu kita akan berbincang-bincang di
taman.”
2. Kerja
“Ibu tidak usah khawatir karena kita
berada ditempat yang aman“
“Ibu masih ingat tidak apa yang menyebabkan
ibu di bawa ke sini?”
“Oh jadi kemarin ibu di bawa ke sini
karena di bawa oleh petugas saat ibu sedang menjemur baju ya bu?”
“Ibu sebelumnya pernah di rawat di
sini tidak bu?”
“Jadi sebelumnya ibu pernah di rawat
3 kali di sini ya?”
“Sebelum di sini ibu pernah di rawat
di mana saja?”
“Di rumah sakit panti Agung ya bu
sebelum dari sini?”
“Apakah ada keluarga yang sakit sama
seperti ibu?”
“Tidak ada, tapi adik kandung saya
bunuh diri gara-gara tidak punya uang”
“Bagaimana respon dari keluarga ibu
tentang sakitnya ibu sekarang?”
“Oh baik jadi keluarga ibu sangat
peduli ya dengan sakitnya ibu kali ini, makanya ibu di bawa ke sini agar ibu
dapat beristirahat dan bisa menenangkan fikiran ibu ya?”
“Iya ibu bagaimana perasaan ibu
setelah di sini?”
“Jadi ibu di sini sudah bisa mulai
tenang kalau tidak memingkirkan masalah sama kakak ipar ibu ya?”
“Sebelumnya bagaimana hubungan ibu
dengan kakak ipar ibu?”
“Oh baik jadi hubungan ibu sama
kakak ipar ibu kurang baik ibu tidak suka dengan kakak ipar ibu, karena kakak
ipar ibu suka menghabiskan uang suami ibu dan selalu punya niatan untuk melukai
ibu ya bu?”
“Sebelumnya ibu tahu tidak ciri-ciri
orang yang mau menyakiti?”
“Ibu sering disakiti sama kakak
ipar?”
“Bagian mana yang disakiti bu?”
“Kalau disakiti bisa hilang dalam
berapa waktu?”
“Coba bu liat bagianmana yang
disakiti?” Nah ini tidak ada luka bu? berati ibu?”
3. Terminasi
a. Evaluasi subyektif
“Bagimana perasaan ibu setelah
berbincang-bincang dengan saya?”
“tadi kita sudah belajar tentang
orientasi realita ya bu? Ibu masih ingat tidak kita sudah melakukan apa tadi? O
ya Bagus”
b. Rencana Tindak Lanjut
“Bagaimana kalau kegiatan orientasi
realita tentang berpikir positif ibu terus lakukan?”
“ibu tidak usah takut ya bu”
“ibu tidak usah takut ya bu”
c. Kontrak
Topik : “Baikalah ibu besok kita
akan bercakap-cakap lagi, besok ibu mau bercakap-cakap tentang apa bu?
Bagaimana kalau kesukaan ibu dirumah, memasak atau kegemaran ibu?” baik ibu
besok kita akan membicarakan tentang kegemaran ibu”
Waktu : “Mau jam berapa Ibu? Ya
baiklah bu jam 09.00 besok ya bu .”
Tempat: “tempatnya besok mau di mana
ibu?” baik ibu kita besok bertemu disini lagi.”“Kalau begitu, saya permisi dulu
ya bu. Assalamu’alaikum ibu”
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,
Lynda Juall, 2000. Diagnosa keperawatan Aplikasi pada praktis klinis
(terjemahan). Edisi 6. Jakarta : EGC.
Sheila L. Vedeback,2008. Buku Ajar Keperawatan
Jiwa. Jakarta : EGC
Rasmun,
2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga,
Jakarta : CV. Sagung Seto.
Stuart & Sunden, 1998. Pocket Guide to
Psychiatric Nursing. Jakarta : EGC.
______.
Pengertian Waham. [Online] Tersedia: http://www.abualbanicentre.com/artikel.
Diakses pada tanggal 27 April 2016 pukul 13.00 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar