Senin, 16 Mei 2016

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN GANGGUAN WAHAM




A.    MASALAH UTAMA
Perubahan Proses Pikir : Waham
B.     PROSES TERJADINYA MASALAH
1.      Pengertian
Waham  adalah  suatu  keyakinan  kokoh  yang  salah  dan  tidak  sesuai  dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin “aneh” (misalnya ”saya adalah nabi  yang menciptakan biji mata manusia”) atau bisa pula “tidak  aneh” (hanya sangat  tidak mungkin, contoh “masyarakat di surga selalu menyertai saya kemanapun saya pergi”) dan tetap dipertahankan meskipun telah diperlihatkan bukti-bukti  yang jelas untuk mengoreksinya (Purba dkk, 2008).
Waham adalah kesalahan dalam menilai diri sendiri, atau keyakinan dengan isi pikirannya padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Atau kepercayaan yang telah terpaku/terpancang kuat dan tidak dapat dibenarkan berdasarkan fakta dan kenyataan tetapi  tetap dipertahankan. Jika disuruh membuktikan berdasar akal  sehatnya, tidak bisa. Atau disebut juga kepercayaan yang palsu dan sudah tidak  dapat dikoreksi (Baihaqi, 2007).
Delusi  atau  waham  merupakan  gagasan  (idea) atau pendapat bahwa seorang individu meyakini satu kebenaran, yang kemungkinan besar bahkan hampir pasti, jelas, tidak mungkin. Tentu saja, banyak orang memegang keyakinan yang kemungkinan besar bisa menjadi salah, seperti keyakinan akan menang lotre. (Wiramihardja, 2007).
Seseorang yang mengalami waham berfikir bahwa ia memiliki banyak kekuatan dan bakat serta tidak merasa terganggu jiwanya atau ia merasa sangat kuat dan sangat terkenal. Hal ini sesuai dengan penjelasan Varcarolis dalam Fundamental of Psychiatric Mental Health Nursing (2006 : 397).

2.      Jenis – Jenis Waham
Menurut Mayer Gross, macam-macam waham adalah sebagai berikut :
·         Waham Primer
Timbul secara tidak logis sama sekali, tanpa penyebab apa-apa dari luar. Misal seseorang merasa istrinya sedang selingkuh sebab ia melihat seekor cicak berjalan dan berhenti dua kali.
·         Waham Sekunder
Biasanya logis kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara bagi penderita untuk menerangkan gejala-gejala skizofrenia lainnya.
·         Waham Agama
Keyakinan terhadap suatu agama secar berlebihan diucapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“kalau saya masuk surga saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari,” atau mengatakan bahwa dirinya adalahTuhan yang dapat mengendalikan makhluknya.
·         Waham Kebesaran
Keyakinan secara berlebihan bahwa dirinya memiliki kekuatan khusus atau kelebihan yang berbeda dengan orang lain, ducapkan berulang-ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“saya ini penjabat di Departemen Kesehatan lho…” , “saya punya tembang emas”
·         Waham curiga
Keyakinan bahwa seseorang atau kelompok orang berusaha merugikan atau mencederai dirinya, diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“saya tahu …semua saudara saya mungkin ingin menghancurkan hidup saya karena mereka semua iri dngan kesuksesan yang dialami saya.
·         Waham Somatik
Keyakinan seseorang bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu atau terserang penyakit, diucapkan berulang – ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
Klien selalu mengatakan bahwa dirinya sakit kanker, namun setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan adanya sel kanker pada tubuhnya.
·         Waham Nihilistik
Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan berulang –ulang tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.
Contoh :
“ini kan alam kubur ya, semua yang ada di sisni adalah roh-roh.”
·         Delusion of reference
Pikiran yang salah bahwa tingkah laku seseorang ada hubunganya dengan dirinya
·         Waham Kejar
Klien mempunyai keyakinan ada orang atau komplotan yang sedang mengganggunya atau mengatakan bahwa ia sedang ditipu, dimata-matai atau kejelekannya sedang dibicarakan
3.      Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala dngan perubahan proses pikir : waham adalah sebagai berikut :
a.       Kognitif :
·         Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
·         Individu sangat percaya pada keyakinannya
·         Sulit berfikir realita
·         Tidak mampu mengambil keputusan
b.      Afektif
·         Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
·         Afek tumpul
c.       Prilaku dan Hubungan Sosial
·         Hipersensitif
·         Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
·         Depresif
·         Ragu-ragu
·         Mengancam secara verbal
·         Aktifitas tidak tepat
·         Streotif
·         Impulsive
·         Curiga
d.      Fisik
·         Higiene kurang
·         Muka pucat
·         Sering menguap
·         BB menurun
·         Nafsu makan berkurang dan sulit tidur 
3.      Rentang respons
Rentang respons perubahan proses pikir waham (keliat,1999)
Respon adaptif                                                            Respon maladaptif
Pikiran logis
Persepsi akurat
Emosi konsisten dg pengalaman
Perilaku sesuai
Berhubungan sosial

Gangguan pikiran/waham
Sulit berespon emosi
Perilaku kacau
Isolasi sosial
Distorsi pikiran
Ilusi
Reaksi emosi berlebihan /kurang
Perilaku aneh/tdk biasa
Menarik diri

 
                                                                  

                                                                   
4.      Etiologi



Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panik, sterss berat yang mengancam ego yang lemah, dan isolasi sosial menarik diri (Townsend, M.C, 1998). Menurut Carpetino, L.J (1998) isolasi sosial merupakan keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak. Sedangkan menurut Rawlins, R.P dan Heacock, P.E (1998), isolasi sosial menarik diri merupakan usaha menghindar dari interaksi dan berhubungan dengan orang lain, individu merasa kehilangan hubungan akrab, tidak mempunyai kesempatan dalam berpikir, berperasaan. Berpr bestasi, atau selalu dalam kegagalan.
Isolasi sosial menarik diri sering ditunjukkan adanya perilaku (Carpentino, L.J 1998) :
Data subjektif :
a.       Mengungkapkan perasaan kesepian atau penolakan
b.      Melaporkan dengan ketidaknyamanan konyak dengan situasi social
c.       Mengungkapkan perasaan tak berguna
Data objektif :
a.       Tidak tahan terhadap kontak yang lama
b.      Tidak komunikatif
c.       Kontak mata buruk
d.      Tampak larut dalam pikiran dan ingatan sendiri
e.       Kurang aktivitas
f.       Wajah tampak murung dan sedih
g.      Kegagalan berinteraksi dengan orang lain
6.      Faktor Predisposisi
a.       Pengembangan
Hambatan perkembangan alam mengganggu hubungan interpersonal seseorang. Hal ini dapat meningkatkan stres dan ansietas yang berakhir dengan gangguan persepsi, klien menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efrktif.
b.      Sosial budaya
Seseorang yang merasa diasingkan dan kesepian dapat menyebabkan timbulnya waham.
c.       Psikologis
Hubungan yang tidak harmonis, peran ganda / bertentangan, dapat menimbulkan ansietas dan berakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan.
d.      Biologis
Waham diyakini tejadi karena adanya atrofi otak, pembesaran ventrikel di otak, atau perubahan pada sel kontrikal dan limbik.
e.       Genetik
  1. Faktor Presipitasi
a.       Sosial budaya
Waham dapat dipicu karena adanya perpisahan dengan orang yang berarti atau diasingkan dari kelompok.
b.      Biokimia
Dopamin, norepineprin, dan zat halusinogen lainnya diduga dapat menjadi penyebab waham pada seseorang.
c.       Psikologis
Kecemasan yang memanjang dan terbatasnya kemampuan untuk mengatasi masalah sehingga klien mengembngkan koping untuk menghindari kenyataan yang menyenangkan.
8.      Penyebab
Berbagai kehilangan dapat terjadi pada pasca bencana, baik kehilangan harta benda, keluarga maupun orang yang bermakna. Kehilangan ini menyebabkan stress bagi mereka yang mengalaminya. Jika stress ini berkepanjangan dapat memicu masalah gangguan jiwa dan waham. (Budi Anna Keliat, 2006: 147)
9.      Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
a.       Status mental
Berdandan dengan baik dan berpakaian rapi, tetapi mungkin terlihat ekstrinsik dan aneh. Tidak jarang bersikap curiga atau bermusuhan terhadap orang lain. Klien biasanya cerdik ketika dilakukan pemeriksaan sehingga dapat memanipulasi data. Selain itu perasaan hatiya konsisten dengan isi waham.

b.      Sensori dan kognisi
Tidak memiliki kelainan dalam orientasi kecuali klien waham spesifik terhadap orang, tempat, dan waktu. Daya ingat atau kognisi lainnya biasanya akurat. Pengendalian impuls pada klien waham perlu diperhatikan bila terlihat adanya rencana untuk bunuh diri, membunuh, atau melakukan kekerasan pada orang lain.
Gangguan proses pikir waham biasanya diawali dengan adanya riwayat penyakit berupa kerusakan pada bagian korteks dan limbik otak. Bisa dikarenakan terjatuh atau didapat ketika lahir. Hal ini menunjukkan terjadinya perubah emosional seseorang yang tidak stabil. Bila kepanjangan akan menimbulkan perasaan rendah diri, kemudian mengisolasi diri dari orang lain dan lingkungan. Waham curiga akan timbul sebagai manifestasi ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Bila respons lingkungan kurang mendukung terhadap perilakunya dimungkinkan akan timbul resiko perilaku kekerasan pada dirinya, orang lain dan lingkungan. Dan kerusakan komunikasi kepada orang lain.
5.      POHON MASALAH
Effect                                                  Kerusakan Komunikasi Verbal
Core Problem                                      Perubahan Proses Pikir : Waham curiga
Cause                                                  Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
6.      Penatalaksanaan
·         Bina hubungan saling percaya dengan pasien
·         Jangan membantah dan mendukung waham klien
·         Yakinkan klien dalam keadaan aman dan terlindung
·         Observasi kebutuhan klien sehari – hari
·         Memberikan pujian setiap klien melakukan aktivitas yang positif
·         Farmakologi seperti : haloperidol, Chlorpromazine, Trihexipenidil.
Farmakoterapi, ECT dan terapi lainnya seperti: terapi psikomotor, terapi rekreasi, terapi somatik, terapi seni, terapi tingkah laku, terapi keluarga, terapi spritual dan terapi okupsi yang semuanya bertujuan untuk memperbaiki perilaku klien dengan waham pada gangguan skizoprenia. Penatalaksanaan yang terakhir adalah rehabilitasi sebagai suatu proses refungsionalisasi dan pengembangan bagi klien agar mampu melaksanakan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.

7.      MASALAH YANG MUNCUL DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
No
Data focus
Masalah keperawatan
1.       

DS : klien mengatakan hal yang tidak jelas
DO :
  • klien berbicara kacau
  • Pembicaraan klien berbelit-belit
Kerusakan komunikasi verbal
   DS :
  • Klien mengatakan hal-hal yang tidak nyata.
  • Klien mengatakan bahwa seseorang berusaha mencederai dirinya.
  • Pasien menolak makanan yang disajikan merasa ada racunnya.
    DO :
  • Pembicaraan klien cenderung berulang-ulang
  • Isi pembicaraan tidak sesuai dengan kenyataan.
  • Klien tampak bingung dan ketakutan

Gangguan proses Pikir : Waham Curiga
Data Subjektif :
  • Klien merasa malu berinteraksi dengan orang lain
Data Objektif :
  • Ekspresi muka klien sedih dan murung
Gangguan konsep diri : harga diri rendah


8.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Kerusakan Komunikasi verbal b.d waham curiga
2.      perubahan isi pikir: waham curiga





9.      RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa
Tujuan Umum
Tujuan Khusus
Intervensi
Kerusakan Komunikasi verbal b.d waham curiga
Klien dapat mengontrol wahamnya sehingga komunikasi verbal dapat berjalan dengan baik
Klien dapat Membina Hubungan Saling Percaya
  1. Bina hubungan saling percaya
  2. Jangan membantah dan mendukung klien
  3. Yakinkan klien dalam keadaan aman dan terlindung
  4. Berikan pujian bila penampilan dan orientasi pasien sesuai dengan realitas.
Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki  

  1. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistic
  2. Diskusikan dengan klien tentang kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistik, hati-hati terlibat dengan waham
  3. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (kaitkan dengan aktifitas sehari-hari) kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini
  4. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada.

Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi
  1. Observasi kebutuhan sehari-hari klien
  2. Diskusikan kebutuhan  klien yang tidak terpenuhi baik secara di rumah dan di RS (rasa takut, ansietas, marah)
  3. Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan timbulnya waham
  4. Tingkat aktivitas  yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (aktivitas dapat dipilih dan dibuat jadwal bersama dengan klien)
  5. Atur situai agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya
Klien dapat b.d realitas (realitas: diri, orang lain, tempat, waktu)
  1. Berbicara dengan klien dalam konteks realitas
  2. Sertakan klien dalam TAK :TAK Orientasi Realita
  3. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
Klien dapat memanfaatkan obat dengan benar
  1. Diskusikan frekuensi, dosis, dan manfaat obat
  2. Anjurkan minum obat
  3. Diskusikan efek bila menghentikan obat tanpa konsultasi
  4. Jelaskan 5 tepat dalam penggunaan obat





STRATEGI PELAKSANAAN KOMUNIKASI PADA PASIEN DENGAN WAHAM
Pertemuan       : ke 1
Hari / Tanggal : Senin, 11 April 2016
Waktu             : 10.00 WIB
Proses Keperawatan
a.       Kondisi Klien
b.      Klien mengatakan dia tahu bahwa saudaranya ingin mengahancurkan hidupnya dan ingin menyakiti dirinya. Klien selalu mengulang-ulang perkataanya. Klien terlihat ketakutan dan bingung.
c.       Diagnosa Keperawatan
d.      Gangguan proses pikir : Waham Curiga
e.       Tujuan
·         Klien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
SP 1 P : Membina hubungan saling percaya ; mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan ; mempraktekkan pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi
  1. Orientasi
    1. Salam Terapeutik
”Assalamualaikum perkenalkan nama saya D, saya praktikan dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta yang bertugas pada pagi ini di Bangsal Sariayu. “Saya bertugas dari jam 08.00–14.00, saya yang akan membantu perawatan ibu hari ini. Pada hari ini kita akan belajar orientasi realita ya bu .” Nama ibu siapa? Ibu senang dipanggil apa?”
    1. Evaluasi Validasi
“Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Ada keluhan yang Ibu rasakan hari ini?” “saya lihat Ibu seperti ketakutan dan bingung Bu?”
    1. Kontrak
Topik: “Bisa kita berbincang-bincang tentang apa yang Ibu Y rasakan sekarang?”
Waktu : “Berapa lama Ibu Y mau berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana kalau 20 menit Bu?”
Tempat : “Dimana enaknya kita bercakap-cakap Bu? Ibu mau disini,di depan atau ditaman bu?” ”baik ibu kita akan berbincang-bincang di taman.”
2.      Kerja
“Ibu tidak usah khawatir karena kita berada ditempat yang aman“
“Ibu masih ingat tidak apa yang menyebabkan ibu di bawa ke sini?”
“Oh jadi kemarin ibu di bawa ke sini karena di bawa oleh petugas saat ibu sedang menjemur baju ya bu?”
“Ibu sebelumnya pernah di rawat di sini tidak bu?”
“Jadi sebelumnya ibu pernah di rawat 3 kali di sini ya?”
“Sebelum di sini ibu pernah di rawat di mana saja?”
“Di rumah sakit panti Agung ya bu sebelum dari sini?”
“Apakah ada keluarga yang sakit sama seperti ibu?”
“Tidak ada, tapi adik kandung saya bunuh diri gara-gara tidak punya uang”
“Bagaimana respon dari keluarga ibu tentang sakitnya ibu sekarang?”
“Oh baik jadi keluarga ibu sangat peduli ya dengan sakitnya ibu kali ini, makanya ibu di bawa ke sini agar ibu dapat beristirahat dan bisa menenangkan fikiran ibu ya?”
“Iya ibu bagaimana perasaan ibu setelah di sini?”
“Jadi ibu di sini sudah bisa mulai tenang kalau tidak memingkirkan masalah sama kakak ipar ibu ya?”
“Sebelumnya bagaimana hubungan ibu dengan kakak ipar ibu?”
“Oh baik jadi hubungan ibu sama kakak ipar ibu kurang baik ibu tidak suka dengan kakak ipar ibu, karena kakak ipar ibu suka menghabiskan uang suami ibu dan selalu punya niatan untuk melukai ibu ya bu?”
“Sebelumnya ibu tahu tidak ciri-ciri orang yang mau menyakiti?”
“Ibu sering disakiti sama kakak ipar?”
“Bagian mana yang disakiti bu?”
“Kalau disakiti bisa hilang dalam berapa waktu?”
“Coba bu liat bagianmana yang disakiti?” Nah ini tidak ada luka bu? berati ibu?”
3.      Terminasi
a.       Evaluasi subyektif
“Bagimana perasaan ibu setelah berbincang-bincang dengan saya?”
“tadi kita sudah belajar tentang orientasi realita ya bu? Ibu masih ingat tidak kita sudah melakukan apa tadi? O ya Bagus”
b.      Rencana Tindak Lanjut
“Bagaimana kalau kegiatan orientasi realita tentang berpikir positif ibu terus lakukan?”
“ibu tidak usah takut ya bu”
c.       Kontrak
Topik : “Baikalah ibu besok kita akan bercakap-cakap lagi, besok ibu mau bercakap-cakap tentang apa bu? Bagaimana kalau kesukaan ibu dirumah, memasak atau kegemaran ibu?” baik ibu besok kita akan membicarakan tentang kegemaran ibu”
Waktu : “Mau jam berapa Ibu? Ya baiklah bu jam 09.00 besok ya bu .”
Tempat: “tempatnya besok mau di mana ibu?” baik ibu kita besok bertemu disini lagi.”“Kalau begitu, saya permisi dulu ya bu. Assalamu’alaikum ibu”



DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Diagnosa keperawatan Aplikasi pada praktis klinis (terjemahan). Edisi 6. Jakarta : EGC.
Sheila L. Vedeback,2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Rasmun, 2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, Jakarta : CV. Sagung Seto.
Stuart & Sunden, 1998. Pocket Guide to Psychiatric Nursing. Jakarta : EGC.
______. Pengertian Waham. [Online] Tersedia: http://www.abualbanicentre.com/artikel. Diakses pada tanggal 27 April 2016 pukul 13.00 WIB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar