Senin, 16 Mei 2016

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KEBUTUHAN PERSONAL HYGIENE



BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Pada kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat berpengaruh berbagai macam hal diantaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta perkembangan zaman ( dalam Tarwoto & Wartonah 2006).
Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Dengan implementasi tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu dalam lingkungan rumah sakit, perawat menambah tingkat kesembuhan pasien. Dengan mengajarkan cara hygiene pada pasien, pasien akan berperan aktif dalam meningkatkan kesehatan dan partisipan dalam perawatan diri ketika memungkinkan (dalam Perry & Potter, 2005).
Jika seseorang sakit, biasanya masalah kebersihan kurang diperhatikan. Hal ini terjadi karena kita menganggap masalah kebersihan adalah masalah sepele, padahal jika hal tersebut dibiarkan terus dapat mempengaruhi kesehatan secara umum (dalam Tarwoto & Wartonah 2006).

B.     RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pemenuhan defisit perawatan diri pada pasien?

C.     TUJUAN
1.      Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan mahasiswa mengerti dan mengetahui tentang asuhan keperawatan pada pasien terhadap pemenuhan defisit perawatan diri.
2.      Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa memahami konsep dasar personal hygiene
b.      Mahasiswa memahami asuhan keperawatan personal hygiene secara teoritis
c.       Mahasiswa memahami proses asuhan keperawatan kebutuhan personal hyhiene pada pasien.

D.    METODE
Metode yang digunakan antara lain:
1.      Observasi
2.      Waweancara dengan pasien
3.      Studi dokumen dengan Rekam Medis pasien




BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    KONSEP DASAR PERSONAL HYGIENE
1.      Definisi Personal Hygiene
Personal Hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Jadi personal hygiene merupakan suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan, kesejahteraan, sesuai dengan kondisi kesehatan, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri. Ukuran kebersihan atau penampilan seseorang dalam pemenuhan kebutuhan Personal Hygiene berbeda pada setiap orang sakit karena terjadi gangguan pemenuhan kebutuhan. Perawat dapat memberikan informasi-informasi tentang personal hygiene yang lebih baik terkait dengan waktu atau frekuensi aktifitas, dan cara yang benar dalam melakukan perawatan diri.
2.      Epidemologi
Pemenuhan kebutuhan personal hygine biasanya menyangkut tentang kebutuhan untuk kebersihan diri secara mandiri. Gangguan pada personal hygine dapat terjadi pada semua tingkat umur. Pasien yang tidak bisa bangun sendiri atau hanya tidur dirumah sakit biasanya yang mengalami gangguan personal hygine.
3.      Etiologi
a.       Gangguan kognitif
b.      Penurunan motivasi
c.       Kendala lingkungan (ketidaksediaan sarana dan prasarana)
d.      Ketidaknyamanan merasakan hubungan spasial
e.       Ansietas
f.       Kelemahan
4.      Faktor Predisposisis
Menurut Potter dan Perry (2005), sikap seseorang melakukan personal hygiene dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain:
a.       Citra Tubuh
Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentingnya hygiene pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Citra tubuh ini dapat sering berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan hygiene.
b.      Praktik sosial.
Kelompok-kelompok sosial wadah seorang klien berhubungan dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, kanak-kanak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka.
c.       Status sosio-ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Perawat harus menentukan apakah klien dapat menyediakan bahan-bahan yang penting seperti deodorant, sampo, pasta gigi dan kosmetik. Perawat juga harus menentukan jika penggunaan produk-produk ini merupakan bagian dari kebiasaan sosial yang dipraktikkan oleh kelompok sosial klien.
d.      Pengetahuan
Pengtahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidaklah cukup. Klien juga harus termotivasi untuk memelihara perawatan-diri. Seringkali, pembelajaran tentang penyakit atau kondisi mendorong klien untuk meningkatkan hygiene. Pembelajaran praktik tertentu yang diharapkan dan menguntungkan dalam mengurangi resiko kesehatan dapat memotifasi seseorang untuk memenuhi perawatan yang perlu.
e.       Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula. Di asia kebersihan dipandang penting bagi kesehatan.
f.       Pilihan pribadi
Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan tentang kapan untuk mandi, bercukur, dan melakukan perawatan rambut . klien memilih produk yang berbeda (mis. Sabun, sampo, deodorant, dan pasta gigi) menurut pilihan pribadi.
g.      Kondisi Fisik.
Orang yang menderita penyakit tertentu (mis. Kanker tahap lanjut) atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi.
5.      Tanda dan Gejala
Adapun gejala klinis dari personal hygiene adalah sebagai berikut :
a.       Kulit kepala kotor, rambut kusam, dan acak-acakan
b.      Hidung dan telinga kotor
c.       Gigi kotor disertai mulut bau
d.      Rambut panjang dan tidak terawat
e.       Kuku panjang dan tidak terawat
f.       Badan dan pakaian kotor 
g.      Penampilan tidak rapi
6.      Pemeriksaan Fisik
a.        Rambut
·    Amati kondisi rambut.
·    Keadaan rambut yang mudah rontok.
·    Keadaan rambut yang kusam.
·    Tekstur rambut.
b.        Kepala
·    Amati dengan benar kebersihan kulit kepala
·    Normosepal
·    Ketombe
·    Berkutu
·    Kebersihan
·    Apakah ada nyeri tekan
c.        Mata
§ Apakah mata kanan dan kiri simetris
§ Konjungtiva ananemis
§ Seklera aninterik
§ Seklera pada kelopak mata.
d.       Hidung
·    Apakah pilek
·    Apakah ada perubahan penciuman
·    Kebersihan hidung
·    Keadaan membrana mukosa apakah ada septum deviasi
e.        Mulut
§ Keadaan mukosa mulut
§ Kelembapan
§ Adanya lesi
§ Kebersihan
f.         Gigi
§ Amati kondisi mukosa mulut dan kelembaban mulut
§ Apakah ada karang gigi
§ Apakah ada carries
§ Kebersihan.
g.        Telinga
§ Amati telinga kanan kiri apa simetris
§ Apakah ada lesi
§ Perhatikan adanya serumen atau kotoran pada telinga.
h.      Kulit
·    Amati kondisi kulit (tekstur, turgon, kelembaban)
·    Apakah ada lesi
·    Apakah ada luka
i.          Kuku, Tangan, dan Kaki
·    Amati kebersihan kuku
·    Perhatikan adanya luka
j.          Tubuh secara umum
·    Amati kondisi dan kebersihan badan secara umum.
·    Perhatikan adanya klainan pada kulit pasien
7.      Terapi
a.       Meningkatkan kesadaran dan percaya diri klien.
b.      Ciptakan lingkungan yang mendukung.
c.       Sikap keluarga.
d.      Membantu klien untuk melakukan perawatan diri.
8.      Penatalaksanaan
Tindakan keperawatan dengan melakukan perawatan pada kulit yang mengalami atau beresiko terjadi kerusakan jaringan lebih lanjut khususnya pada daerah yang mengalami tekanan (tonjolan). Dengan tujuan mencegah dan mengatasi terjadinya luka dekubitus akibat tekanan lama dan tidak hilang. Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara mencuci dan menyisir rambut. Tujuannya adalah membersihkan kuman yang ada pada kulit kepala, menambah rasa nyaman, membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada kulit dan memperlancar sistem peredaran darah di bawah kulit. Tindakan keperawatan pada pasien dengan cara membersihkan dan menyikat gigi dan mulut secara teratur. Tujuan perawatan ini mencegah infeksi pada mulut akibat kerusakan pada daerah gigi dan mulut, membantu menambah nafsu makan dan menjaga kebersihan gigi dan mulut. Tindakan keperawatan pada pasien yang tidak mampu merawat kuku secara sendiri. Tujuannya adalah menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat garukan dari kuku.

B.     ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
Pengkajian
1.      Identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat pendidikan, agama, pekerjaan, tanggal MRS, No registrasi, dll.
2.      Keluhan utama
3.      Riwayat kesehatan sekarang
4.      Riwayat penyakit terdahulu
5.      Riwayat kesahatan keluarga
6.      Pola persepsi dan manajemen kesehatan
7.      Pola nutrisi-metabolik
8.      Pola eleminasi
9.      Pola aktivitas dan latihan
10.  Pola kognitif dan persepsi
11.  Pola persepsi - konsep diri
12.  Pola tidur dan istirahat
13.  Pola peran – hubungan
14.  Pola seksual – reproduksi
15.  Pola toleransi stress – koping
16.  Pola nilai – kepercayaan
17.  Riwayat keperawatan
a.       Faktor yang mempengaruhi personal hygine
b.      Pola kebersihan tubuh
c.       Kebiasaan personal hygine (mandi, oral care, perawatan kuku dan kaki, perawatan rambut, mata, hidung dan telinga.
18.  Pemeriksaan fisik
a.       Keadaan Umum
b.      Tanda-tanda Vital
c.       Catat perubahan-perubahan pada area membran mukosa, kulit, mulut, hidung, telinga, kuku, kaki, dan rambut akibat terapi.
d.      Lakukan inspeksi dan palpasi, catat adanya lesi dan kondisi lesi.
e.       Observasi kondisi membran mukosa, kulit, mulut, hidung, telinga,             kuku,kaki, dan rambut : warna, tekstur, turgon.
19.  Data
DS (data subyektif) :
a.       Malas  beraktivitas
b.      Intraksi kurang
c.       Kegiatan kurang
d.      Pasien merasa lemah.
DO (data obyektif) :
a.       Badan dan pakaian kotor
b.      Rambut kotor
c.       Mulut dan gigi bau
d.      Kulit kusam dan kotor
e.       Kuku kotor
Diagnosa Keperawatan yang mungkin akan muncul
Menurut NANDA 2013, diagnosa keperawatan umum untuk klien dengan masalah personal hygiene adalah defisit perawatan diri. Diagnosa tersebut dibagi menjadi 4 yaitu:
a.       Defisit perawatan diri : makan
Kemungkinan berhubungan dengan:
1)      Gangguan kognitif
2)      Penurunan motivasi
3)      Kendala lingkungan
4)      Ketidaknyamanan

Ditandai dengan:
1)      Ketidakmampuan mengambil makanan dan memasukan kemulut
2)      Ketidakmampuan mengunyah makanan
3)      Ketidakmampuan menghabiskan makanan
4)      Ketidakmampuan menelan makanan

b.      Defisit perawatan diri : mandi
Kemungkinan berhubungan dengan:
1)      Gangguan kognitif
2)      Penurunan motivasi
3)      Kendala lingkungan
4)      Nyeri

Ditandai dengan:
1)      Ketidakmampuan untuk mengakses ke kamar mandi
2)      Ketidakmampuan mengambil perlengkapan mandi
3)      Ketidakmampuan mengeringkan tubuh
4)      Ketidakmampuan menjangkau sumber air
c.       Defisit perawatan diri : berpakaian/berhias
Kemungkinan berhubungan dengan:
1)      Gangguan kognitif
2)      Penurunan motivasi
3)      Kendala lingkungan
4)      Keletihan dan kelemahan

Ditandai dengan:
1)      Ketidakmampuan mengancingkan pakaian
2)      Ketidakmampuan mengenakan sepatu
3)      Ketidakmampuan mengenakan atribut pakaian
4)      Hambatan memilih pakaian

d.      Defisit perawatan diri : eleminasi
Kemungkinan berhubungan dengan:
1)      Gangguan kognitif
2)      Penurunan motivasi
3)      Kendala lingkungan
4)      Keletihan dan kelemahan

Ditandai dengan:
1)      Ketidakmampuan melakukan hygiene eleminasi yang tepat
2)      Ketidakmampuan naik ke toilet atau commode
3)      Ketidakmampuan untuk duduk di toilet atau commode

Rencana Keperawatan
Rencana asuhan keperawatan untuk klien dengan gangguan personal hygiene harus meliputi beberapa pertimbangan yaitu hal – hal yang disukai klien, kesehatan klien serta keterbatasan yang dimilikinya. Selain itu perawat perlu mempertimbangkan waktu yang tepat untuk memberikan asuhan keperawatan serta fasilitas dan tenaga yang tersedia.
Berikut ini adalah salah satu contoh rencana keperawatan.
Diagnosa yang dapat diangkat:
1.      Defisit perawatan diri: berpakaian b/d penurunan  motivasi ditandai dengan penampilan tidak rapi
2.      Defisit perawatan diri: eleminasi b/d hambatan mobilitas ditandai dengan tidak mampu ke toilet sendiri
3.      Defisit perawatan diri: mandi berhubungan dengan gangguan muskuloskeletal ditandai dengan badan kotor dan bau
4.     Defisit perawatan diri: makan b/d nyeri ditandai dengan tidak mampu menelan makanan

No dx
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1.
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam, px mampu mempertahankan kebersihan diri dan kerapian, dengan KH:
1.     Penampilan rapi
2.     Rambut rapi dan bersih
3.     Mampu memakai pakaian dan berhias secara mandiri
1.    Kaji hambatan partisipasi dalam perawatan diri

2.    Bantu pasien memilih pakaian


3.   Jelaskan tentang cara personal hygiene yang tepat


4.    Libatkan keluarga
1.     Menyiapkan untuk meningkatkan kemandirian

2.     
Px mungkin membutuhkan berbagai bantuan dalam persiapan memilih pakaian

3.    Menambah pengetahuan pasien dan keluarga mengenai perawatan diri yang tepat

4.    Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu pasien dan memberikan motivasi
2
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam, px mampu melakukanaktivitas eleminasi secara tepat, dengan KH:
1.      Px mampu duduk dan turun dari toilet
2.    Px mampu membersihkan diri setelah eleminasi secara mandiri/dibantu
1.    Kaji budaya pasien ketika mempromosikan aktivitas perawatan diri
2.      Bantu pasien ke toilet




3.     
Berikan pengetahuan tentang personal hygiene

4.      Libatkan keluarga
1.     Mngetahui kebiasaan px dalam toileting

  Hambatan mobilitas menyebabkan px tidak mampu melakukan perawatan diri secara mandiri

Mengetahui pentingnya personal hygiene bagi pasien

4.    Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu pasien
3
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam, px merasa nyaman dan bersih dengan KH:
1.    Kulit pasien tidak kotor
2.    Tidak ada bau badan
3.    Kuku pasien tidak panjang    dan kotor
4.    Rambut bersih
1.    Pantau integritas kult pasien

2.    Bantu pasien mandi


3.    Berikan pendidikan kesehatan tentang perawatan diri

4.   Libatkan keluarga
1.    Mengetahui kondisi kulit secara umum

2.    Agar pasien merasa lebih nyaman dan segar

3.      Menambah wawasan pasien dan keluarga tentang pentingnya perawatan diri

4.    Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu pasien
4
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama ...x 24 jam, px mampu makan secara mandiri dan tepat, dengan KH:
1.     Px mampu mengambil makanan sendiri
2.     Px mampu makan sendiri dengan rapi
3.     Px meampu mengungkapkan kepuasan makan
1.     Identifikasi diet yang diresepkan

Bantu pasien menyiapkan makanan yang lunak

Jelaskan tentang personal hygiene tentang pola makan


4   Kolaborasikan dengan keluarga
1.    Makanan disesuaikan dengan kondisi klien

2.    Pasien mungkin kesulitan mengambil makanan sendiri



3.     
Menambah wawasan pasien dan keluarga tentang persoal hygiene: makan

4.    Memberikan kesempatan kepada keluarga untuk membantu pasien

Implementasi Keperawatan
            Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan. Ukuran intervensi keperawatan yang diberikan kepada klien terkait dengan dukungan, pengobatan, tindakan untuk memperbaiki kondisi, pendidikan untuk klien-keluarga, atau tindakan untuk mencegah masalah kesehatan yang muncul dikemudian hari.

Evaluasi Keperawatan
Evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan personal hygiene berdasarkan kriteria hasil pada tujuan keperawatan yaitu:
a.       Pasien mampu berpakaian dan berpenampilan rapi secara mandiri
b.      Kebutuhan personal hygiene pasien : eleminasi terpenuhi
c.       Pasien mampu mempertahankan mobilitas yang diperlukan untuk ke kamar mandi dan menyediakan perlengkapan mandi
d.      Pasien mampu makan secara mandiri/dibantu




DAFTAR PUSTAKA


Amin, Handhi. 2013. Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA. Jakarta : MediAction

Mubarak, Wahit Iqbal & Cahyani, Nurul. 2007. Kebutuhan Dasar. Jakarta : EGC

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta:EGC

Tarwoto & Wartonah. 2006. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan Ediai 3. Jakarta: Salemba Medika

2 komentar: